Jumat, 05 Juli 2013

Menguak Sejarah Tamansari Kraton Yogyakarta

Mengunjungi situs-situs sejarah memang memberikan sensasi tersendiri.Selain kita bisa berekreasi untuk menghilangkan penat akibat kegiatan sehari-hari,kita juga bisa belajar dan mengenang kembali sejarah tempat tersebut.Yogyakarta sebagai salah satu tujuan para wisata,memiliki tempat-tempat bersejarah yang bisa anda kunjungi.Salah satunya adalah tamansari.
Kolam di Tamansari
Taman Sari adalah salah satu warisan budaya kraton Jogjakarta yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya.Tamansari terletak di sebelah selatan Kraton Yogyakarta.Saat ini Tamansari menjadi obyek wisata yang ramai dikunjungi baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik.Apalagi setelah adanya pemugaran,membuat obyek wisata satu ini tampak lebih cantik.
Nama tamansari terdiri dari dua buah kata,yaitu taman dan sari (indah).Sehingga dimaksudkan kompleks tamansari ini bisa menjadi sebuah taman yang indah.Untuk memasuki wilayah Taman Sari ini, Anda bisa melalui jalan belakang, karena jalan dari depan telah ditutup oleh padatnya rumah penduduk. Di pintu gerbangnya sudah terlihat beberapa orang guide yang siap mendampingi untuk berkeliling keseluruh wilayah Taman Sari dan menceritakan sejarahnya.
Tamansari dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II.Arsitek bangunan ini adalah bangsa Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat. Namun makna-makna simbolik Jawa tetap dipertahankan dan lebih dominan.
Tamansari  adalah sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar.Menurut sejarah tempat ini digunakan untuk pemandian para raja yang berkuasa yaitu Sultan Yogyakarta beserta keluarganya.Selain itu tempat ini juga digunakan untuk beribadah,karena TamanSari juga dilengkapi dengan mushola, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.Di lingkungan taman ada sebuah lorong yang menurut cerita lorong ini merupakan lorong penghubung yang berakhir di Pantai Parang Kusumo di sekitar Parang Tritis. Konon raja-raja Jogjakarta selalu berhubungan dengan Ratu Pantai Laut Selatan (Nyi Roro Kidul). Lorong inilah jalur yang digunakan untuk melakukan pertemuan dengan Sang Ratu Kidul.Percaya atau tidak itu hanyalah sebuah cerita,yang sampai saat ini belum ada bukti nyata yang menguatkanya.Namun saat ini lorong tersebut sudah ditutup karena umurnya yang sangat tua.
Bangunan Sumur Gumuling
Selain digunakan untuk pesanggrahan dan peristirahatan,tamansari juga digunakan untuk benteng pertahanan.Tembok-tembok yang mengelilingi tamansari meskipun terlihat tua tetapi masih kokoh.Hal ini terbukti ketika terjadi gempa yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya 2006 lalu,tembok tembok tersebut masih mampu berdiri kokoh.

Gua Kiskendo Yang Penuh Misteri

Gua kiskendo adalah sebuah obyek wisata yang berada di pegunungan menoreh dengan ketinggian 1200 meter diatas permukaan air laut.Obyek wisata ini terletak sekitar 35 km arah barat laut dari kota Yogyakarta.Ketika akan memasuki gua,maka anda akan suguhi sebuah relief yang mengisahkan pewayangan.
Berwisata ke Gua Kiskendo Yang Penuh Misteri, wisata jogja, gua kiskendo kulon progo, cerita subali di gua kiskendo,
Gua Kiskendo di Kulon Progo
Gua yang masih dianggap sebagai tempat keramat oleh masyarakat setempat ini terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.Menurut sebuah cerita gua keskindo merupakan tempat  
tinggal Raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan Lembusura yang berkepala sapi.Dalam kisah pewayangan, di tempat ini terjadi pertempuran antara Subali Sugriwa dengan Mahesasura dan patih Lembusura yang menghuni goa ini.Di dalam goa Kiskendo ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah bentuknya.Di dalam goa ini mengalir sungai di bawah tanah.Dalam cerita pewayangan, terjadi pertempuran antara Subali dan Sugriwa dengan Mahesasuradan Lembusura,sampai sungai tersebut mengalirkan air berwarna merah dan putih.
Obyek Wisata Gua Kiskendo sebenarnya merupakan sebuah komplek yang terdiri dari beberapa tempat diantaranya :

  • Selangsur yaitu tempat pertempuran antara serdadu kerajaan kiskendo dengan subali.
  • Sepranji yaitu sebuah tempat yang digunakan sebagai peternakan pada zaman kerajaan kiskendo.
  • Babat Kandel, yaitu batu-batuan yang menyerupai usus perut manusia.
  • sawahan,yaitu tempat menanam padi.
  • Selumbung atau tempat penyimpanan makanan kerajaan kiskendo
  • gua seterbang
  • Lidah Mahesosuro yaitu berupa batu yang menyerupai lidah,konon batu tersebut merupakan lidah dari mahesosuro yang dipotong oleh subali agar tidak hidup kembali.
  • Kerato Sekandang,merupakan pusat kerajaan kiskendo dan disinilah tempat pertempuran subali melawan mahesosuro dan lembusuro.
  • Lumbung kampek,merupakan tempat penyimpanan barang-barang berharga dari kerajaan kiskendo.
  • Pertapaan santri tani,yaitu tempat yang digunakan untuk bertapa agar hasil tani melimpah.
  • Sumelong,berupa sebuah lubang yang bisa menembus ke atas.
  • Pertapaan Kusuman, yaitu sebuah tempat yang digunakan untuk bertapa agar memiliki derajat yang lebih tinggi.
  • Padasan,yaitu sumber mata air pada masa kerajaan kiskendo.
  • Pertapaan subali, yaitu sebuah tempat yang digunakan subali untuk bertapa sebelum perang melawan mahesosuro dan lembusuro.
Terlepas mau percaya atau tidak,yang jelas cerita tersebut dilukiskan dalam sebuah relief yang terletak di depan mulut gua.
Relief Di Depan Gua Kiskendo
Karena terletak di pegunungan,menjadikan udara disini sangat sejuk.Sepanjang perjalanan menuju Goa Kiskendo dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang mempesona. Memasuki gua Kiskendo, pengunjung akan disambut oleh keindahan stalaktit dan stalagmit seperti gua batu kapur pada umumnya.Beberapa fasilitas umum juga terdapat disini seperti toilet,tempat parkir yang cukup luas, serta sebuah joglo.
Untuk menuju lokasi gua kiskendo sebenarnya sangat mudah.Apabila anda menggunaka kendaraan pribadi,dari tugu yogyakarta anda tinggal berjalan ke barat yaitu ke arah godean.Sampai dipasar godean,anda tinggal lurus terus ke arah barat hingga jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok.Sesampainya di atas bukit sudah banyak terdapat plakat yang menuju gua kiskendo.

Menyusuri Eksotisme Gua Gong

Kabupaten pacitan adalah sebuah wilyah yang disebut sebagai kota 1001 gua.Sebagian besar wilayah kabupaten pacitan dipenuhi oleh pegunungan kars sehingga banyak terdapat gua disini.Salah satunya adalah Gua Gong. Terletak sekitar 30 km sebelah barat Pacitan, gua ini jauh dari kesan menakutkan. Pemerintah telah membangun sebuah jalan setapak dari semen untuk memudahkan perjalanan Anda.Menyusuri gua yang cukup luas ini akan membawa Anda menikmati bentuk-bentuk indah batu kapur hasil tetesan air selama ratusan atau bahkan ribuan tahun.Penduduk lokal berkerumun di mulut gua yang tak seberapa lebar, menawarkan jasa pemandu dan juga senter.

Menyusuri gua yang cukup luas ini akan membawa Anda menikmati bentuk-bentuk indah batu kapur hasil tetesan air selama ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Menempuh perjalanan ke Gua Gong lewat Wonosari sungguh mengasikkan. Jalannya yang berkelok-kelok, naik turun membuat pikiran menjadi segar. Namun mendekati lokasi gua, jalanan yang kita lalui menyempit, terkadang naik sangat tajam dan turun secara tajam sehingga seakan-akan jalanannya seperti hilang. Untuk itu kita harus sangat berhati-hati terutama jika berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan.

Gua yang terletak di Dusun Pule, Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan ini merupakan gua yang terindah dan terdalam diantara gugusan gua-gua yang terletak di disekitarnya. Karena masih ada beberapa gua lain yang letaknya tidak terlalu jauh dari Gua Gong, seperti Gua Tabuhan dan Gua Putri. Karena keindahannya tersebut, pihak pengelola pun secara serius menggarap wisata ini dengan baik. Walaupun terletak disalah satu puncak bukit karst yang terjal, pengelola menyediakan lokasi parkir mobil yang lumayan luas, kurang lebih bisa menampung dua puluh kendaraan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung di hari-hari libur.


Masuk ke ruangan pertama yang tak seberapa besar, Anda akan disambut dengan banyaknya straw, ornamen-ornamen berbentuk seperti sedotan yang terdapat di langit-langit gua. Mulai dari ruangan ini, gua dibagi menjadi 2 jalur yaitu jalur masuk dan keluar. Melewati sebuah celah sempit, Anda dibawa ke ruangan kedua. Di luar perkiraan, ruangan ini sangat besar dengan ratusan stalaktit dan stalagmit indah. 

Gua ini dilengkapi dengan tangga dan pegangan besi sehingga Anda tidak perlu repot-repot mencari tempat untuk memijakkan kaki. Berjalan menembus lorong dengan stalaktit stalagmit berdiri kokoh menyangga rongga gua seakan membawa Anda ke dimensi lain yang berbeda. Flowstone-flowstone berbentuk gorden terlihat di beberapa tempat, menghiasi gua dengan dengan bentuknya yang mempesona. Sungguh mengagumkan bila membayangkan berapa ribu tahun yang dibutuhkan untuk membentuk formasi luar biasa ini. Sebuah stalagmit raksasa menjadi batas dengan ruangan ketiga di ujung gua. Ornamen-ornamen kristal berwarna putih berkilauan menghiasi ruang yang dinamakan ruang kristal ini.

Untuk memsauki gua gong,cukup membayar tiket seharga Rp 5.000,00 untuk orang dewasa dan Rp 3.000,00 untuk anak-anak.

Pantai Ngobaran Gunung Kidul

Terletak sekitar dua kilometer sebelah barat Pantai Ngrenehan ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang menakjubkan seperti hamparan pasir putih, gulungan ombak, barisan batu karang, rumput laut (alga), dan deretan pohon pandan laut, tetapi juga menyuguhkan pesona budaya yang penuh nuansa mistis.
Pantai Ngobaran dikenal sebagai tempat ritual berbagai penganut agama atau kepercayaan. Di kawasan ini terdapat tempat-tempat peribadatan seperti masjid yang berdiri berdampingan dengan pura menghadap ke arah pantai selatan, serta tempat ibadah berbagai aliran kepercayaan seperti Kejawen dan Kejawan. Selain itu, di kawasan pantai ini juga terdapat beberapa arca dan stupa yang sering dijadikan tempat upacara keagamaan. Di puncak bukit karang yang terletak di sekitar Pantai Ngobaran terdapat sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Kotak batu yang berada di depan sebuah rumah Joglo ini dikelilingi oleh pagar kayu berwarna abu-abu. Konon, tepat di mana tanaman kering itu tumbuh merupakan tempat Prabu Brawijaya V membakar diri.


Menurut cerita masyarakat setempat, Prabu Brawijaya V atau biasa dikenal dengan Bhre Kertabhumi yang merupakan keturunan terakhir Kerajaan Majapahit (1464-1478 M) ini melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya, Bondang Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua), karena enggan diislamkan oleh putranya sendiri yang bernama Raden Fatah Raja I Demak. Mereka berkelana malang-melintang ke daerah-daerah pedalaman dan pesisir. Ketika tiba di pantai yang kini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu. Mereka dihadang oleh laut selatan yang sangat ganas ombaknya sehingga tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Akhirnya, Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Sebelum menceburkan diri ke dalam api yang telah disiapkan, ia bertanya kepada kedua istrinya. “Wahai, istriku! Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya kepadaku?” Dewi Lowati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung.” Sedangkan Bondang Surati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan, sama seperti kuku ireng, setiap selesai dikethok (dipotong) pasti akan tumbuh lagi.” Begitulah cinta Bondang Surati kepada suaminya, jika cinta itu hilang, maka cinta itu akan tumbuh lagi.
Setelah mendengar jawaban dari kedua istrinya, Brawijaya V langsung menarik tangan Dewi Lowati lalu bercebur ke dalam api yang membara. Pada saat itulah, keduanya tewas dan hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati bercebur ke dalam api karena cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Dari peristiwa membakar diri inilah kawasan pantai ini diberi nama Ngobaran. Ngobaran berasal dari kata kobong atau kobaran, yang berarti terbakar atau membakar diri.
Kebenaran cerita tentang Prabu Brawijaya V membakar diri ini masih diragukan oleh sebagian pihak. Menurut keterangan dari sebagian masyarakat setempat yang diperoleh dari orang-orang tua mereka, Prabu Brawijaya V sebenarnya tidak meninggal di kawasan Pantai Ngobaran. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, ada seorang warga yang menyaksikan bahwa yang bercebur ke dalam api bukan Brawijaya V dan istrinya, tetapi anjing peliharaannya. Pendapat ini dibuktikan dengan ditemukannya petilasan (jejak) berupa tulang-tulang sisa kobaran api yang ternyata bukan tulang manusia, melainkan belang yoyang (tulang-tulang anjing).
Cerita versi lain mengatakan bahwa Brawijaya V melakukan moksa (hilang) di puncak Gunung Lawu. Menurut para sejarawan, versi ini sesuai dengan fakta sejarah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa Brawijaya V enggan masuk Islam dan tidak mau berperang melawan putranya sendiri sehingga ia meninggalkan istana menuju Blambangan dan kemudian mengasingkan diri ke puncak Gunung Lawu bersama dua orang abdinya Dipa Manggala dan Wangsa Manggala. Di puncak Gunung Lawu itulah Brawijaya moksa dan musnah bersama kedua abdinya. Dengan musnahnya Brawijaya V, maka sirnalah Kerajaan Majapahit. Runtuhnya Majapahit ini dikenal dengan istilah “candrasangkala” atau Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1. Kalimat yang mengandung makna angka (bilangan) ini jika dibaca terbalik menyatakan tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 M.
Terlepas dari perbedaan versi cerita di atas, hingga kini sebagian masyarakat setempat tetap meyakini bahwa Brawijaya V pernah meninggalkan jejak di Pantai Ngobaran sehingga kawasan ini menjadi salah satu obyek wisata petilasan atau wisata pantai ritual yang ada di Gunungkidul. Penganut Kejawan yang merupakan aliran kepercayaan peninggalan Prabu Brawijaya V sering melakukan ritual di kawasan ini. Selain itu, penganut agama Hindu juga sering melakukan upacara Galungan setiap bulan purnama dan Upacara Melastri dalam rangkaian upacara Hari Raya Nyepi. Begitu pula penganut kepercayaan Kejawen, setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon mengadakan ritual di kawasan ini.
B. Keistimewaan
Saat memasuki kawasan Pantai Ngobaran, Anda akan disambut oleh suasana mistis yang berpadu dengan suara ombak yang terhempas di tebing-tebing batu karang. Pesona budaya yang pertama kali Anda temui adalah sebuah prasasti yang terletak di antara arca dan stupa. Konon, prasasti itu dibuat oleh masyarakat setempat untuk mengenang peristiwa menghilangnya Prabu Brawijaya V di kawasan itu. Pada prasasti tersebut tertulis sebuah Ikrar Kesatria yang berisi tiga butir, yaitu: AKU BERSUMPAH SETYA DAN PATUH: 1). Menghormati, menjunjung tinggi dan menghormati para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri; 2). Menghormati dan menjunjung tinggi ajaran Trimurti ajaran kepercayaan lelulur cikal bakal bangsaku sendiri; 3). Menghormati, menjujung tinggi dan menjaga bumi pertiwi, tanah tumpah darah para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri.
Berjalan ke arah selatan prasasti tersebut, Anda akan menemui sebuah bangunan pura yang terletak di ujung bukit batu karang. Di samping pura itu, Anda dapat menyaksikan pemandangan laut lepas yang menakjubkan. Tidak jauh dari pura itu, Anda juga dapat menemui sebuah rumah joglo dan sebuah mushola berukuran kurang lebih 3 x 4 meter yang berlantai pasir. Bangunan mushola ini sangat unik karena arah kiblatnya menghadap ke selatan. Bagi pengunjung yang ingin melaksanakan shalat tidak perlu bingung dengan arah kiblat karena penduduk setempat telah memberi tanda pada dinding mushola tentang arah kiblat yang sebenarnya. Usai melaksanakan shalat, pengunjung pun dapat menyaksikan keindahan Pantai Ngobaran dari tempat imam memimpin shalat karena pada bagian tersebut terbuka lebar.
Setelah puas menikmati suasana mistis, Anda bisa berjalan ke arah barat mengikuti jalan menurun menuju ke pantai. Di sana Anda akan menyaksikan pesona alam Pantai Ngobaran yang dapat membius pandangan Anda. Pantai ini dihiasi oleh hamparan pasir putih dan karang-karang berselimut alga. Jika dilihat secara sekilas, pantai ini bagaikan hamparan permadani hijau. Alga atau dalam bahasa Jawa disebut karangan itu menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat.
Jika berkunjung ke pantai ini pada saat air laut surut, yaitu sekitar pukul 06.00 – 11.00 pagi, Anda akan menjumpai masyarakat pantai tengah mencari karangan untuk dijual kepada tengkulak yang kebanyakan berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Jika ingin membawa pulang rumput laut untuk diolah di rumah, pengunjung dapat memperolehnya dengan harga yang relatif murah. Di kawasan ini tersedia beragam jenis karangan seperti karangan simbar untuk bahan pembuatan kerupuk dengan harga Rp 3000,00-Rp 5.000,00/kg, karangan lumut dengan harga Rp 1.500,00-Rp 2.000,00/kg, dan karangan ager untuk bahan agar-agar dengan harga Rp 1.200,00-Rp 1.500,00/kg.
Jika Anda berkunjung pada sore hari, Anda bisa menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pantai yang sedang mencari beragam jenis biota laut seperti landak laut, bintang laut, lobster, dan kerang-kerangan. Biota laut tersebut banyak hidup di kolam-kolam mini yang berada di sela-sela batu karang.
Setelah menikmati sejuta pesona budaya dan alam kawasan pantai ini, kunjungan Anda serasa tidak lengkap jika tidak menikmati wisata kulinernya. Salah satu menu khas yang tersedia di warung-warung makan di sepanjang jalan masuk ke kawasan pantai ini adalah Landak Goreng. Menurut penduduk setempat, daging landak cukup kenyal dan rasanya lezat. Cara menyantapnya pun cukup unik, yaitu duri landak laut terlebih dahulu dikepras (dibabat) hingga rata dan kemudian dipecah dengan menggunakan sabit hingga dagingnya terlihat. Setelah itu, daging landak dicongkel. Sajian wisata kuliner khas ini menjadi penutup dari segala sensasi yang ditawarkan oleh Pantai Ngobaran.
C. Lokasi
Pantai Ngobaran berlokasi di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia.
D. Akses
Akses menuju ke pantai ini sama dengan akses menuju ke Pantai Ngrenehan. Pengunjung dapat melewati dua jalur utama yang biasa digunakan oleh penduduk setempat maupun para wisatawan. Jalur pertama adalah Yogyakarta - Lapangan Udara Gading - Pertigaan Gading (ambil arah ke kanan) – Playen – Paliyan – Trowono – Saptosari - Pantai Ngobaran. Jalur kedua adalah Yogyakarta – Kota Wonosari – Paliyan – Trowono – Pantai Ngobaran.
Jika Anda berada di Pantai Parangtritis, maka akan lebih dekat untuk sampai Pantai Ngrobaran. Anda hanya tinggal menaiki jalan menanjak di sisi sebelah timur Pantai Parangtritis menuju ke arah Panggang. Dari Panggang Anda mengambil jalur yang menuju Saptosari dan Pantai Ngobaran.
E. Tiket
Biaya tiket masuk ke kawasan Pantai Ngobaran sebesar Rp 3.000,00. Salah satu keuntungan mengunjungi pantai ini adalah, dengan harga tiket tersebut, pengunjung juga dapat menikmati pesona kawasan Pantai Ngrenehan yang sudah menjadi satu paket dengan Pantai Ngobaran.
F. Akomodasi dan Fasilitas lainnya
Akomodasi dan fasilitas yang ada di Pantai Ngobaran belum begitu lengkap, karena kawasan ini belum terjangkau oleh aliran listrik. Fasilitas seperti losmen dan penginapan belum tersedia sehingga hanya memungkinkan para wisatawan berkunjung ke pantai ini pada siang hari. Namun yang sudah tersedia di antaranya kamar mandi, warung makan, tempat ibadah, dan tempat parkir.

Teks: lara_ati
sumber: Jogjatrip.com

Minggu, 30 Juni 2013

SOBAKASU

Kenshin Himura

SOBAKASU
Daikirai datta sobakasu wo chotto
Hitonadeshite tame iki wo hitotsu
Hebi ikkyuu no koi wa migoto ni
Kakuzatou to isshoni toketa
Mae yori mo motto yaseta mune ni chotto
"Chiku" tto sasaru toge ga itai
Hoshiuranai mo ate ni naranai wa

Motto touku made isshoni yuketara nee
Ureshikute sore dakede

Omoi de wa itsumo kirei dakedo
Sore dake ja onaka ga suku wa
Honto wa setsunai yoru nanoni
Doushite kashira? Ano hito no egao mo omoi dasenai no?

Kowashite naoshite wakatteru noni
Sore ga atashi no seikaku dakara
Modokashii kimochi de ayafuya no mama de
Soredemo ii koi wo shitekita

Omoikiri aketa hidari mimi no piasu ni wa nee
Waraenai episoudo wooo..... woooooo.....

Sobakasu no kazu wo kazoetemiru
Yogoretanui gurumi daite
Mune wo sasu toge wa kienai kedo
Kaeru-chan mo usagi-chan mo
Waratte kureru no

Omoi de wa itsumo kirei dakedo
Sore dake ja onaka ga suku no
Honto wa setsunai yoru nanoni
Doushite kashira? Ano hito no namida mo omoi dasenai no?
Omoidasenai no
Doushitenano?
 
Kenshin Himura, Kaori Kamiya, Yahiko, Sanosuke Sagara
Freckles  (English Version)
Osbrushed against those freckles that I hated so,
Life goes on and I heave a little sigh for you.
It's heavy, the love that I would share for you,
But it dissolves like it was just a sugarcube.
Now the little pain sitting in my heart
Has shrunk in a bit, but it really does hurt me now.
Those silly horoscopes, I
Guess I can't trust them after all.

If we could get further away,
I wonder what it would be like... ?
Yay!
I'd be so happy
Inside my heart.

All the memories I have are beautiful in my mind,
But they don't feed the hunger deep inside my soul.
And tonight I thought,
I'd be just sitting in my sorrow.
And now I must wonder why.
What did it really mean to you?
I just can't see it anymore!
I just can't see it anymore......
Oh-oh-oh-oh-oh-oh-ohhhhhhhhhhh.....

Freckles  (Versi Indonesia)
Hitokiri Battousai
Osbrushed terhadap bintik-bintik yang aku benci begitu,
Hidup berjalan terus dan aku menarik napas kecil untuk Anda.
Ini berat, cinta yang saya akan berbagi untuk Anda,
Tetapi larut seperti itu hanya gula batu.
Sekarang rasa sakit kecil yang duduk di hatiku
Telah menyusut dalam sedikit, tapi itu benar-benar menyakiti saya sekarang.
Mereka horoskop konyol, saya
Kurasa aku tidak bisa mempercayai mereka setelah semua.

Jika kita bisa mendapatkan lebih jauh,
Aku bertanya-tanya apa itu akan seperti ... ?
Yay!
Aku akan sangat senang
Di dalam hati saya.

Semua kenangan saya yang indah dalam pikiran saya,
Tapi mereka tidak memberi makan kelaparan jauh di dalam jiwaku.
Dan malam ini saya pikir,
Aku akan hanya duduk dalam kesedihan saya.
Dan sekarang aku harus bertanya-tanya mengapa.
Apa itu benar-benar berarti bagi Anda?
Aku hanya tidak bisa melihatnya lagi!
Aku hanya tidak bisa melihatnya lagi ......
Oh-oh-oh-oh-oh-oh-ohhhhhhhhhhh ....