Jumat, 05 Juli 2013

Pantai Ngobaran Gunung Kidul

Terletak sekitar dua kilometer sebelah barat Pantai Ngrenehan ini tidak hanya menyuguhkan panorama alam yang menakjubkan seperti hamparan pasir putih, gulungan ombak, barisan batu karang, rumput laut (alga), dan deretan pohon pandan laut, tetapi juga menyuguhkan pesona budaya yang penuh nuansa mistis.
Pantai Ngobaran dikenal sebagai tempat ritual berbagai penganut agama atau kepercayaan. Di kawasan ini terdapat tempat-tempat peribadatan seperti masjid yang berdiri berdampingan dengan pura menghadap ke arah pantai selatan, serta tempat ibadah berbagai aliran kepercayaan seperti Kejawen dan Kejawan. Selain itu, di kawasan pantai ini juga terdapat beberapa arca dan stupa yang sering dijadikan tempat upacara keagamaan. Di puncak bukit karang yang terletak di sekitar Pantai Ngobaran terdapat sebuah kotak batu yang ditumbuhi tanaman kering. Kotak batu yang berada di depan sebuah rumah Joglo ini dikelilingi oleh pagar kayu berwarna abu-abu. Konon, tepat di mana tanaman kering itu tumbuh merupakan tempat Prabu Brawijaya V membakar diri.


Menurut cerita masyarakat setempat, Prabu Brawijaya V atau biasa dikenal dengan Bhre Kertabhumi yang merupakan keturunan terakhir Kerajaan Majapahit (1464-1478 M) ini melarikan diri dari istana bersama kedua istrinya, Bondang Surati (istri pertama) dan Dewi Lowati (istri kedua), karena enggan diislamkan oleh putranya sendiri yang bernama Raden Fatah Raja I Demak. Mereka berkelana malang-melintang ke daerah-daerah pedalaman dan pesisir. Ketika tiba di pantai yang kini bernama Ngobaran, mereka menemui jalan buntu. Mereka dihadang oleh laut selatan yang sangat ganas ombaknya sehingga tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Akhirnya, Brawijaya V memutuskan untuk membakar diri. Sebelum menceburkan diri ke dalam api yang telah disiapkan, ia bertanya kepada kedua istrinya. “Wahai, istriku! Siapa di antara kalian yang paling besar cintanya kepadaku?” Dewi Lowati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan sebesar gunung.” Sedangkan Bondang Surati menjawab, “Cinta saya kepada Tuan, sama seperti kuku ireng, setiap selesai dikethok (dipotong) pasti akan tumbuh lagi.” Begitulah cinta Bondang Surati kepada suaminya, jika cinta itu hilang, maka cinta itu akan tumbuh lagi.
Setelah mendengar jawaban dari kedua istrinya, Brawijaya V langsung menarik tangan Dewi Lowati lalu bercebur ke dalam api yang membara. Pada saat itulah, keduanya tewas dan hangus terbakar. Prabu Brawijaya V memilih Dewi Lowati bercebur ke dalam api karena cinta istri keduanya itu lebih kecil dibandingkan dengan istri pertamanya. Dari peristiwa membakar diri inilah kawasan pantai ini diberi nama Ngobaran. Ngobaran berasal dari kata kobong atau kobaran, yang berarti terbakar atau membakar diri.
Kebenaran cerita tentang Prabu Brawijaya V membakar diri ini masih diragukan oleh sebagian pihak. Menurut keterangan dari sebagian masyarakat setempat yang diperoleh dari orang-orang tua mereka, Prabu Brawijaya V sebenarnya tidak meninggal di kawasan Pantai Ngobaran. Pada saat peristiwa tersebut terjadi, ada seorang warga yang menyaksikan bahwa yang bercebur ke dalam api bukan Brawijaya V dan istrinya, tetapi anjing peliharaannya. Pendapat ini dibuktikan dengan ditemukannya petilasan (jejak) berupa tulang-tulang sisa kobaran api yang ternyata bukan tulang manusia, melainkan belang yoyang (tulang-tulang anjing).
Cerita versi lain mengatakan bahwa Brawijaya V melakukan moksa (hilang) di puncak Gunung Lawu. Menurut para sejarawan, versi ini sesuai dengan fakta sejarah. Kenyataan memang menunjukkan bahwa Brawijaya V enggan masuk Islam dan tidak mau berperang melawan putranya sendiri sehingga ia meninggalkan istana menuju Blambangan dan kemudian mengasingkan diri ke puncak Gunung Lawu bersama dua orang abdinya Dipa Manggala dan Wangsa Manggala. Di puncak Gunung Lawu itulah Brawijaya moksa dan musnah bersama kedua abdinya. Dengan musnahnya Brawijaya V, maka sirnalah Kerajaan Majapahit. Runtuhnya Majapahit ini dikenal dengan istilah “candrasangkala” atau Sirna Ilang Kertaning Bumi, yang berarti Sirna = 0, Ilang = 0, Kerta = 4, Bumi = 1. Kalimat yang mengandung makna angka (bilangan) ini jika dibaca terbalik menyatakan tahun keruntuhan Kerajaan Majapahit, yaitu tahun 1400 Saka atau 1478 M.
Terlepas dari perbedaan versi cerita di atas, hingga kini sebagian masyarakat setempat tetap meyakini bahwa Brawijaya V pernah meninggalkan jejak di Pantai Ngobaran sehingga kawasan ini menjadi salah satu obyek wisata petilasan atau wisata pantai ritual yang ada di Gunungkidul. Penganut Kejawan yang merupakan aliran kepercayaan peninggalan Prabu Brawijaya V sering melakukan ritual di kawasan ini. Selain itu, penganut agama Hindu juga sering melakukan upacara Galungan setiap bulan purnama dan Upacara Melastri dalam rangkaian upacara Hari Raya Nyepi. Begitu pula penganut kepercayaan Kejawen, setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon mengadakan ritual di kawasan ini.
B. Keistimewaan
Saat memasuki kawasan Pantai Ngobaran, Anda akan disambut oleh suasana mistis yang berpadu dengan suara ombak yang terhempas di tebing-tebing batu karang. Pesona budaya yang pertama kali Anda temui adalah sebuah prasasti yang terletak di antara arca dan stupa. Konon, prasasti itu dibuat oleh masyarakat setempat untuk mengenang peristiwa menghilangnya Prabu Brawijaya V di kawasan itu. Pada prasasti tersebut tertulis sebuah Ikrar Kesatria yang berisi tiga butir, yaitu: AKU BERSUMPAH SETYA DAN PATUH: 1). Menghormati, menjunjung tinggi dan menghormati para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri; 2). Menghormati dan menjunjung tinggi ajaran Trimurti ajaran kepercayaan lelulur cikal bakal bangsaku sendiri; 3). Menghormati, menjujung tinggi dan menjaga bumi pertiwi, tanah tumpah darah para leluhur cikal bakal bangsaku sendiri.
Berjalan ke arah selatan prasasti tersebut, Anda akan menemui sebuah bangunan pura yang terletak di ujung bukit batu karang. Di samping pura itu, Anda dapat menyaksikan pemandangan laut lepas yang menakjubkan. Tidak jauh dari pura itu, Anda juga dapat menemui sebuah rumah joglo dan sebuah mushola berukuran kurang lebih 3 x 4 meter yang berlantai pasir. Bangunan mushola ini sangat unik karena arah kiblatnya menghadap ke selatan. Bagi pengunjung yang ingin melaksanakan shalat tidak perlu bingung dengan arah kiblat karena penduduk setempat telah memberi tanda pada dinding mushola tentang arah kiblat yang sebenarnya. Usai melaksanakan shalat, pengunjung pun dapat menyaksikan keindahan Pantai Ngobaran dari tempat imam memimpin shalat karena pada bagian tersebut terbuka lebar.
Setelah puas menikmati suasana mistis, Anda bisa berjalan ke arah barat mengikuti jalan menurun menuju ke pantai. Di sana Anda akan menyaksikan pesona alam Pantai Ngobaran yang dapat membius pandangan Anda. Pantai ini dihiasi oleh hamparan pasir putih dan karang-karang berselimut alga. Jika dilihat secara sekilas, pantai ini bagaikan hamparan permadani hijau. Alga atau dalam bahasa Jawa disebut karangan itu menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat.
Jika berkunjung ke pantai ini pada saat air laut surut, yaitu sekitar pukul 06.00 – 11.00 pagi, Anda akan menjumpai masyarakat pantai tengah mencari karangan untuk dijual kepada tengkulak yang kebanyakan berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Jika ingin membawa pulang rumput laut untuk diolah di rumah, pengunjung dapat memperolehnya dengan harga yang relatif murah. Di kawasan ini tersedia beragam jenis karangan seperti karangan simbar untuk bahan pembuatan kerupuk dengan harga Rp 3000,00-Rp 5.000,00/kg, karangan lumut dengan harga Rp 1.500,00-Rp 2.000,00/kg, dan karangan ager untuk bahan agar-agar dengan harga Rp 1.200,00-Rp 1.500,00/kg.
Jika Anda berkunjung pada sore hari, Anda bisa menyaksikan aktivitas para nelayan di sekitar pantai yang sedang mencari beragam jenis biota laut seperti landak laut, bintang laut, lobster, dan kerang-kerangan. Biota laut tersebut banyak hidup di kolam-kolam mini yang berada di sela-sela batu karang.
Setelah menikmati sejuta pesona budaya dan alam kawasan pantai ini, kunjungan Anda serasa tidak lengkap jika tidak menikmati wisata kulinernya. Salah satu menu khas yang tersedia di warung-warung makan di sepanjang jalan masuk ke kawasan pantai ini adalah Landak Goreng. Menurut penduduk setempat, daging landak cukup kenyal dan rasanya lezat. Cara menyantapnya pun cukup unik, yaitu duri landak laut terlebih dahulu dikepras (dibabat) hingga rata dan kemudian dipecah dengan menggunakan sabit hingga dagingnya terlihat. Setelah itu, daging landak dicongkel. Sajian wisata kuliner khas ini menjadi penutup dari segala sensasi yang ditawarkan oleh Pantai Ngobaran.
C. Lokasi
Pantai Ngobaran berlokasi di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia.
D. Akses
Akses menuju ke pantai ini sama dengan akses menuju ke Pantai Ngrenehan. Pengunjung dapat melewati dua jalur utama yang biasa digunakan oleh penduduk setempat maupun para wisatawan. Jalur pertama adalah Yogyakarta - Lapangan Udara Gading - Pertigaan Gading (ambil arah ke kanan) – Playen – Paliyan – Trowono – Saptosari - Pantai Ngobaran. Jalur kedua adalah Yogyakarta – Kota Wonosari – Paliyan – Trowono – Pantai Ngobaran.
Jika Anda berada di Pantai Parangtritis, maka akan lebih dekat untuk sampai Pantai Ngrobaran. Anda hanya tinggal menaiki jalan menanjak di sisi sebelah timur Pantai Parangtritis menuju ke arah Panggang. Dari Panggang Anda mengambil jalur yang menuju Saptosari dan Pantai Ngobaran.
E. Tiket
Biaya tiket masuk ke kawasan Pantai Ngobaran sebesar Rp 3.000,00. Salah satu keuntungan mengunjungi pantai ini adalah, dengan harga tiket tersebut, pengunjung juga dapat menikmati pesona kawasan Pantai Ngrenehan yang sudah menjadi satu paket dengan Pantai Ngobaran.
F. Akomodasi dan Fasilitas lainnya
Akomodasi dan fasilitas yang ada di Pantai Ngobaran belum begitu lengkap, karena kawasan ini belum terjangkau oleh aliran listrik. Fasilitas seperti losmen dan penginapan belum tersedia sehingga hanya memungkinkan para wisatawan berkunjung ke pantai ini pada siang hari. Namun yang sudah tersedia di antaranya kamar mandi, warung makan, tempat ibadah, dan tempat parkir.

Teks: lara_ati
sumber: Jogjatrip.com

Minggu, 30 Juni 2013

SOBAKASU

Kenshin Himura

SOBAKASU
Daikirai datta sobakasu wo chotto
Hitonadeshite tame iki wo hitotsu
Hebi ikkyuu no koi wa migoto ni
Kakuzatou to isshoni toketa
Mae yori mo motto yaseta mune ni chotto
"Chiku" tto sasaru toge ga itai
Hoshiuranai mo ate ni naranai wa

Motto touku made isshoni yuketara nee
Ureshikute sore dakede

Omoi de wa itsumo kirei dakedo
Sore dake ja onaka ga suku wa
Honto wa setsunai yoru nanoni
Doushite kashira? Ano hito no egao mo omoi dasenai no?

Kowashite naoshite wakatteru noni
Sore ga atashi no seikaku dakara
Modokashii kimochi de ayafuya no mama de
Soredemo ii koi wo shitekita

Omoikiri aketa hidari mimi no piasu ni wa nee
Waraenai episoudo wooo..... woooooo.....

Sobakasu no kazu wo kazoetemiru
Yogoretanui gurumi daite
Mune wo sasu toge wa kienai kedo
Kaeru-chan mo usagi-chan mo
Waratte kureru no

Omoi de wa itsumo kirei dakedo
Sore dake ja onaka ga suku no
Honto wa setsunai yoru nanoni
Doushite kashira? Ano hito no namida mo omoi dasenai no?
Omoidasenai no
Doushitenano?
 
Kenshin Himura, Kaori Kamiya, Yahiko, Sanosuke Sagara
Freckles  (English Version)
Osbrushed against those freckles that I hated so,
Life goes on and I heave a little sigh for you.
It's heavy, the love that I would share for you,
But it dissolves like it was just a sugarcube.
Now the little pain sitting in my heart
Has shrunk in a bit, but it really does hurt me now.
Those silly horoscopes, I
Guess I can't trust them after all.

If we could get further away,
I wonder what it would be like... ?
Yay!
I'd be so happy
Inside my heart.

All the memories I have are beautiful in my mind,
But they don't feed the hunger deep inside my soul.
And tonight I thought,
I'd be just sitting in my sorrow.
And now I must wonder why.
What did it really mean to you?
I just can't see it anymore!
I just can't see it anymore......
Oh-oh-oh-oh-oh-oh-ohhhhhhhhhhh.....

Freckles  (Versi Indonesia)
Hitokiri Battousai
Osbrushed terhadap bintik-bintik yang aku benci begitu,
Hidup berjalan terus dan aku menarik napas kecil untuk Anda.
Ini berat, cinta yang saya akan berbagi untuk Anda,
Tetapi larut seperti itu hanya gula batu.
Sekarang rasa sakit kecil yang duduk di hatiku
Telah menyusut dalam sedikit, tapi itu benar-benar menyakiti saya sekarang.
Mereka horoskop konyol, saya
Kurasa aku tidak bisa mempercayai mereka setelah semua.

Jika kita bisa mendapatkan lebih jauh,
Aku bertanya-tanya apa itu akan seperti ... ?
Yay!
Aku akan sangat senang
Di dalam hati saya.

Semua kenangan saya yang indah dalam pikiran saya,
Tapi mereka tidak memberi makan kelaparan jauh di dalam jiwaku.
Dan malam ini saya pikir,
Aku akan hanya duduk dalam kesedihan saya.
Dan sekarang aku harus bertanya-tanya mengapa.
Apa itu benar-benar berarti bagi Anda?
Aku hanya tidak bisa melihatnya lagi!
Aku hanya tidak bisa melihatnya lagi ......
Oh-oh-oh-oh-oh-oh-ohhhhhhhhhhh ....

Selasa, 21 Mei 2013

SILSILAH PRABU SILIWANGI


SILSILAH PRABU SILIWANGI
Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran seorang Muslim juga seorang Wali Allah . Putra dari Prabu Anggalarang kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati.
Silsilah Prabu Siliwangi sebagai ke turunan ke-12 dari Maharaja Adimulia.

MAHA RAJA ADI MULYA / RATU GALUH AJAR SUKARESI nikah ka Dewi Naganingrum / Nyai Ujung Sekarjingga a Puputra :
PRABU CIUNG WANARA a Puputra :
SRI RATU PURBA SARI a Puputra :
PRABU LINGGA HIANG a Puputra :
PRABU LINGGA WESI a Puputra :
PRABU SUSUK TUNGGAL a Puputra :
PRABU BANYAK LARANG a Puputra :
PRABU BANYAK WANGI a Puputra :
PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA a Puputra :
PRABU WASTU KENCANA ( PRABU NISKALA WASTU KANCANA ) a Puputra :
PRABU ANGGALARANG ( PRABU DEWATA NISKALA ) nikah ka Dewi Siti Samboja / Dewi Rengganis a Puputra :
SRI BADUGA MAHA RAJA ( WALIYULLOH JAYA DEWATA RADEN PAMANAH RASA ) (1459-1521M)
 ( GELAR : PRABU SILIWANGI )
 GADUH ASISTEN MAUNG BODAS TI BANGSA JIN NGARANA SI TABLO / PRABU GILING WESI SAKTI DI CURUG SAWER TALAGA MAJALENGKA MAQOM PRABU SILIWANGI DI RANCAMAYA – BOGOR ngaosna ka Syekh Quro Karawang ( Syekh Hasanuddin bin Yusuf Al-Husainy madzhab Hambaliy,

GURU PRABU SILIWANGI
1.       Syekh Quro Karawang ( Syekh Hasanuddin bin Yusuf  bani Al-Husain cucu Nabi Saw. ) dan
2.       Syekh Datuk Kahfi Cirebon yang juga dari bani Al-Husain cucu Nabi Saw.
 
SEKILAS SIROH / RIWAYAT HIDUP PANGERAN PAMANAH RASA ( PRABU SILIWANGI ) :
 
Pangeran Pamanah Rasa Menjadi Raja Di Kerajaan Gajah
Semenjak abad empat belas setelah Pangeran Anggalarang mengajarkan kembali keilmuanya untuk mejadi seorang raja, agar bisa memimpin kerajaan dan rakyat-rakyatnya, dari situ Pangeran Pamanah Rasa di angkat oleh ayahnya pangeran Anggalarang menjadi raja ke dua dari kerajaan Gajah, yang disebut-sebut kerajaan Gajah itu simbol atau tanda lambang kerajaan yang di bawa dari adat atau budaya, karena jika punya kerajaan harus tahu nama kerajaannya.
Pangeran Pamanah Rasa berkelana, dan mempunyai  Macan Putih ( dari bangsa Jin )
Pangeran Pamanah Rasa ingin mencoba keluar meninggalkan saudara-saudaranya ( yakni Prabu Rangga Pupukan dan Prabu Jaya Pupukan ) dan rakyat gajah, untuk keluar dari kerajaan gajah  guna mencari ilmu dan mengunjungi kerajaan-kerajaan yang lain sambil beliau memperkenalkan diri bahwa beliau yang memegang kerajaan Gajah, Beliau pergi sendiri tidak di kawal oleh satu orang pun padahal prajurit-prajuritnya banyak yang menawarkan diri agar di kawal, tetapi beliau tetap pergi sendiri.
Setelah beliau keluar dari hutan, beliau merasa haus lalu mencari air untuk minum. Akhirnya Pangeran Pamanah Rasa menemukan air terjun yang besar (air terjun ini
bernama curug sawer di Majalengka). Setelah beliau mendatangi air terjun tersebut Pangeran Pamanah Rasa kaget karena di sekelilingnya banyak harimau putih nan besar.
Harimau Putih tersebut menghampiri Pangeran Pamanah Rasa, sudah hampir sampai tinggal beberapa langkah lagi Harimau Putih itu mau menerkam Pangeran Pamanah Rasa.
Pangeran Pamanah Rasa memakai keilmuannya membuat gulungan angin besar, dan angin tersebut di bentuk dan dipadukan dengan air terjun yang mengalir menggunakan tenaga dalam ilmu kanuragan, di bentuklah menjadi gulungan angin dan air yang dijadikan senjata untuk melawan Harimau Putih itu ternyata tak ada pengaruhnya bagi harimau putih itu , karena harimau putih itu jelmaan dari jin ifrit, sehingga harimau putih itu menerkam Pangeran Pamanah Rasa dan Pangeran Pamanah Rasa pun menakisnya dengan gelang timah yang ada di tangannya, sehingga Harimau putih itu pun menjerit kesakitan, dari situlah  Pangeran Pamanah Rasa mengetahui kelemahan Harimau putih itu yakni dengan gelang yang terbuat dari Timah , maka dibukalah 2 gelang timah itu dari kedua tangannya, ketika harimau putih itu mau menerkam dengan gesitnya Pangeran Pamanah Rasa memasukan gelang dari timah itu ke kedua tangan Harimau putih itu dan satu gelang lagi ke kedua kaki Harimau putih itu sehingga dari situlah Harimau Putih pun kalah tak berdaya , menjerit meminta ampun kepada Pangeran Pamanah Rasa. Dari kejadian itulah Pangeran Pamanah Rasa mengetahuinya bahwa harimau putih itu bukan harimau biasa karena harimau itu bisa berbicara seperti manusia, maka Harimau Putih jadijadian yang mau mencelakakan Pangeran Pamanah Rasa itu bertobat, dan ia akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang sudah di lakukan padanya, Sebelum Pangeran Pamanah Rasa berangkat Harimau Putih jadijadian itu memberi pakaian, Karena pakaian pangeran sobek bekas pertarungan tadi. Pangeran Pamanah Rasa di kasih pakaian dari kulit harimau oleh Harimau Putih
jelmaan dari Jin itu. Harimau Putih jelmaan dari jin itu merasa kurang cukup apabila hanya memberi pakaian saja, jadi dia memutuskan untuk mengabdi kepada Pangeran Pamanah Rasa dengan mendampingi beliau.
Pangeran Pamanah Rasa kembali ke kerajaan Dengan Mongol Pati
Pangeran Pamanah Rasa perasaannya tidak tenang, beliau takut ada apa-apa sesuatu yang buruk menimpa pada kerajaannya.Pangeran Pamanah Rasa menempuh perjalanan dalam waktu tiga hari untuk sampai ke kerajaan.
Eyang Jaya Perkasa yang disuruh dan yang dititipi memegang kerajaan mendapatkan surat dari kerajaan Mongol Pati untuk masalah wilayah, surat dari kerajaan Mongol Pati, yang isi suratnya mengajak berperang. Eyang Jaya Perkasa menggantikan Pangeran Pamanah Rasa dikarenakan tiga hari lagi dari kerajaan Mongol Pati mau nyerang ke kerajaan Gajah. Secara terus menerus berlangsung dengan hebatnya, saling hantam senjata tajam dan sebagainya. Tidak lama kemudian Harimau Putih jelmaan dari jin itu mendadak keluar berhamburan entah dari mana datangnya, ada beberapa Harimau Putih muncul , menyerang prajurit Mongol Pati, tak lama kemudian prajurit kerajaan Mongol Pati mundur kocar kacir di amuk Harimau Putih, sebagian lagi mati oleh Harimau Putih.
Siang itu juga perang selesai, Harimau Putih berjejer menghadap Panglima Eyang Jaya Perkasa dan prajuritnya. Tak lama kemudian dihadapan Harimau Putih yang berbaris, Pangeran Pamanah Rasa mendadak ada disamping Harimau Putih yang lebih besar, dari sana prajurit-prajurit tertunduk nyembah kepada beliau, seketika Harimau Putih yang berbaris lenyap menghilang, tinggal satu lagi yang disamping Pangeran Pamanah Rasa.
Mengganti Nama Kerajaaan Gajah menjadi PAKUAN PEJAJARAN
Dan Membuat Simbol Senjata Kujang Yang Pertama
Pangeran Pamanah Rasa sudah menghitung nama apa yang baik untuk mengganti nama kerajaan yang sekarang. Terus beliau mempertimbangkan bersama panglimanya, kata Pangeran Pamanah Rasa
Negara kita Negara sunda, maka kita bisa disebut orang sunda, kemudian sekarang jamannya sudah agak beda bukan jaman purba lagi, memang sejak dulu kerajaan Gajah terkenal, berkat Ramahanda saya, yang masih termasuk jaman purba, dengan simbol Gajah, disatukan jadi simbol kerajaan, datang dari petunjuk yang jadi kekuatan berdirinya kerajaan Gajah. juga sama, Negara ini juga ada nama, yaitu Negara yang kita diami adalah tataran sunda yang termasuk dari simbolnya yaitu binatang yang paling buas yaitu Harimau sunda tersebut harus benar-benar dipegang oleh saya, jadi harus dipercepat membuat barang-barang yang membentuk pisau untuk ciri dari kerajaan sunda sebagai simbol yang bisa menyimpan kekuatan, buatkan pisau berbentuk Harimau sebanyak tiga buah..
Pada waktu itu juga Pangeran Pamanah Rasa menyuruh ke Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata, yaitu harus menyimbolkan tataran sunda, senjata sunda yaitu pisau yang berbentuk Harimau, sebagai awal mula sejarah dibuatnya tiga senjata yang berbentuk Harimau tiga warna, yaitu kuning, hitam, putih senjata-senjata tersebut diminta untuk langsung dibuatkan.
Senjata pertama yang berwarna hitam, dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar oleh Pangeran Pamanah Rasa sendiri, dibentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.
Senjata Kedua dibuat dari air api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning.
Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau.
Barang sudah jadi tinggal namanya, semalam penuh Pangeran Pamanah Rasa memikirkan nama untuk barang itu, tepat ayam berkokok tepat ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, yaitu dengan bahasa sandi, bahasa itu sangat tepat untuk barang senjata yang sudah jadi, yaitu namanya KUJANG, dikarenakan barangnya ada tiga, beda beda warna tapi bentuknya sama disebut jadi KUJANG TIGA SERANGKAI, YANG ARTINYA BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA atau nama yang beda warna tapi berkaitan, dikarenakan bentuknya sama, Pangeran Pamanah Rasa bicara lagi,
Nah saya ini ada petunjuk yaitu jika dari barang sudah selesai sekarang masalah nama kerajaan, dikarenakan saya ada yang membantu yaitu bangsa jin atau Harimau Harimau ghaib, jadi saya membawa nama kerajaan dari Negara Gajah dengan kerajaan Harimau, bila disatukan maka namanya disebut PAKUAN PAJAJARAN disatukan lagi oleh barang yang tiga itu yang namanya KUJANG jadi tepat sudah, nah ditatar sunda ini lahir Kerajaan Pajajaran.
Eyang saat mengganti kerajaan ini namanya bukan untuk saya sendiri tapi untuk rakyat semua supaya ada perubahan untuk semuanya, oleh karena itu kita semua harus mengikuti jaman, sekarang sudah agak maju jamannya dikarenakan harus di iringi oleh ilmu ekonomi, hal itu dari melihat kerajaan yang lain, hal itu juga untuk merebut kerajaaan Galuh yang membayar Mongol Pati untuk menyerang kerajaan kita, jadi kita juga sama kita serang kerajaan Galuh dengan tenaga baru, prajurit Gajah dan prajurit Harimau kita satukan memakai Bahasa sandi, jadi nama ini Pajajaran. Nah begitu barangkali rencana saya,
Pangeran Pamanah Rasa bicara begitu ke panglimanya dikarenakan ingin didukung oleh panglimanya, jawab Eyang Jaya Perkasa;
Iya Pangeran, saya mengikuti, dikarenakan itu petunjuknya, laksanakan saja jangan takut dibantu oleh saya Insya Allah, nah itu jawaban Eyang Jaya Perkasa dengan menyebut Insya Allah dikarenakan Eyangnya seorang yang beragama islam beda dengan Pangerannya.
Pangeran Pamanah Sari Masuk Islam Oleh Syekh Quro
Pangeran Pamanah Rasa berganti nama menjadi Pangeran Pamanah Sari untuk menaklukan Syekh Quro ( yakni Syekh Hasanuddin bin Yusuf  dari bani Husain cucu Nabi Saw. ) atas perintah ayahandanya Prabu Anggalarang , namun waktu mau menyerang ke pesantren Quro yang berada di karawang milik Syekh Quro,  Pangeran Pamanah Sari mendengar Alunan Bacaan Al-Qur`an yang merdu sekali , sehingga penyeranganpun dibatalkan akhirnya Pangeran Pamanah Sari menyelidiki siapakah gerangan yang telah membaca Al-qur`an itu ? ternyata setelah diselidiki yang membaca Al-Qur`an itu seorang Gadis yang Cantik Jelita , sehingga Pangeran Pamanah Sari terpikat oleh kecantikannya , kemudian Pangeran Pamanah Sari mendatangi Syekh Quro untuk melamar Gadis Cantik Jelita itu, yang tadinya bertujuan menyerang jadi berbalik haluan menjadi bentuk pelamaran, namun Syekh Quro menyarankan agar mendatangi ayah aslinya yang bernama ki Gedeng Tapa,beberapa hari kemudian Pangeran Pamanah Sari meminta kepada ki Gendeng Tapa membawa putrinya untuk dinikahi oleh Pangeran Pamanah Sari, penawaran itu sudah diserahkan semuanya kepada Syekh Quro sebab Nyi Subang Larang sudah menjadi putri angkatnya Syekh Quro.
Pangeran Pamanah Sari datang lagi ke Syekh Quro. Setelah sampai ditempatnya Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari berbicara hanya pokok masalah penting saja, yaitu tentang mau menikahi Nyimas Subang Larang, Syekh Quro menerima lamaran Pangeran Pamanah Sari namun dalam masalah itu Syekh Quro meminta syarat yang harus di penuhi dan dilakukan yaitu ada 3 syarat :
Yang pertama harus masuk islam, yang kedua harus belajar ngaji, yang ketiga harus berangkat dulu ke haji, itulah 3 syarat yang diberikan oleh Syekh Quro kepada Pangeran Pamanah Sari.
Pangeran Pamanah Sari Kebingungan dengan persyaratan tersebut karena terlalu berat buat beliau karena beliau dari agama Hindu, tetapi karena ada yang ingin dicapai oleh Pangeran Pamanah Sari maka Pangeran Pamanah Sari memutuskan untuk menerima 3 syarat tersebut dan Syekh Quro berjanji menentukan waktu untuk mengislamkan Pangeran Pamanah Sari yaitu satu hari setelah Pangeran Pamanah Sari menyanggupinya, tidak terlalu lama waktu yang ditunggu telah tiba. Pangeran Pamanah Sari siap untuk di Islamkan, beliau datang kepada Syekh Quro untuk di Islamkan ketika sampai ke tempatnya Syekh Quro. Semua orang dikumpulkan ke dalam ruangan, ki Gendeng Tapa menyaksikan Pangeran Pamanah Sari di Islamkan, tidak terlalu lama Pengeran Pamanah Sari diberikan janji oleh Syekh Quro sambil memegang tangannya dengan mengucapkan dua kalimah Syahadat ( Syahadatain ) setelah selesai membaca Syahadat kemudian dicukur Rambut kekufurannya dan mandi masuk Islam kemudian disunat dan Pangeran Pamanah Sari dianggap sah menjadi muslim, seminggu kemudian  Pangeran Pamanah Sari langsung menjalankan syarat yang kedua yaitu belajar ngaji.
Syekh Quro langsung mengajarkan, siang malam Pangeran Pamanah Sari belajar ngaji dengan Syekh Quro, karena ingin bisa serta ingin cepat mengejar pada syarat yang ketiga, tidak lama kemudian setelah 5 bulan Pangeran Pamanah Sari bisa ngaji seperti membaca huruf arab, sholat, dan pemikiran Islam seperti apa artinya Islam, semua ilmu agama islam telah diserapnya.
Syekh Quro bingung dan heran Pangeran Pamanah Sari bisa belajar dengan cepat, padalah sampai tingkatan semua itu, bisa butuh waktu sekitar dua atau tiga tahun. Pangeran Pamanah Sari langsung meminta syarat yang ketiga yaitu naik haji, Syekh Quro langsung menyiapkan Pangeran Pamanah Sari sebab Pangeran Pamanah Sari mau dibawa ke Arab yaitu ke Mekah tampat orang naik Haji, beliau dikasih tahu dulu oleh Syekh Quro harus itikaf, berdiam diri di Mekah selama empat puluh hari.
Pangeran Pamanah Sari Berangkat ke Haji
Setelah Syekh Quro menjelaskan, Pangeran Pamanah Sari mengerti dan menyanggupi, pada malam itu juga Syekh Quro membawa Pangeran Pamanah Sari ke Mekah. Pangeran Pamanah Sari berangkat ke Mekah di bawa terbang oleh Syekh Quro sampai ke Mekah membutuhkan waktu satu malam, berangkat malam sampai subuh tiba di Mekah langsung sholat shubuh, setelah sholat subuh Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari istirahat dulu, setelah istirahat langsung melaksanakan ibadah haji sejak pertama melaksanakan sholat berjamaah sampai amalan-amalan yang diajarkan oleh Syekh Quro diamalkan, sehari penuh berkeliling Kabah.
Pangeran Pamanah Sari kebingungan kenapa dirinya jadi begini, sudah beberapa hari Pangeran Pamanah Sari ada perubahan dalam dirinya sedikit-sedikit dosa dan kajadian-kajadian oleh beliau yang dialami seperti nyata kelihatan nampak seperti mimpi buruk atau jelek, Pangeran Pamanah Sari sampai menangis habis-habisan di depan Kabah. Semenjak itu Pangeran Pamanah Sari percaya Islam dan percaya adanya Allah, empat puluh hari tidak terasa sudah berlalu Pangeran Pamanah Sari dibawa pulang oleh Syekh Quro setelah sampai kembali ke tempat, banyak yang berkumpul menunggu yang pulang dari haji.
Malam itu juga Syekh Quro dengan Pangeran Pamanah Sari sudah sampai ditempat, pulang dari haji. Karena malam itu sudah pada lelah tidak terlalu lama setelah mengobrol lalu istirahat.
Ayam sudah bekokok yang artinya waktu sholat subuh, Pangeran Pamanah Sari yang biasanya bangun pagi setelah mata hari bersinar, tetapi sekarang masih gelap juga sudah bangun untuk sholat subuh dengan Syekh Quro, setelah sholat subuh Pangeran Pamanah Sari melanjutkan Wirid dan dzikir sampai matahari terbit.
Setelah selesai wirid dan Dzikir , Pangeran Pamanah Sari ditanya oleh Syekh Quro dalam masalah pernikahannya dengan Nyai Subang Larang, dari situ Pangeran Pamanah Sari ingin bicara dulu kepada semuanya, karena sebelumnya beliau ada niat hati yang jelek, setelah belajar dengan Syekh Quro, Pangeran Pamanah Sari mengalami banyak perubahan dalam dirinya dan tahu mana ajaran yang benar dan mana ajaran yang salah, oleh karena itu Pangeran Pamanah Sari menjelaskan yang sebenarnya bahwa dia yang sebenarnya adalah Raja di Kerajaan Pajajaran, setelah di jelaskan ada yang terkejut, ada yang langsung menyembah dan sebagainya, tetapi Syekh Quro biasa saja karena sudah tahu dari awalnya juga, tidak ada yang membuat marah satupun malahan senang Pangeran Pamanah Sari berterus terang.
Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas Subang Larang
Dikarenakan Syekh Quro sudah berjanji kepada Pangeran Pamanah Sari dalam syarat yang ketiga yaitu menikahkan Nyimas Subang Larang dengan Pangeran Pamanah Sari. Pangeran Pamanah Sari langsung gembira mendengar perkataan Syekh Quro, semua yang ada disitu terus memastikan atau menentukan hari-harinya untuk pernikahan yang baik, Itu semua diserahkan kepada Syekh Quro yang lebih mengetahui waktu yang baik. Tidak lama waktu sudah ditentukan oleh Syekh Quro, ada waktu tiga hari untuk mempersiapkannya. Waktu tiga hari terasa cepat tidak disangka-sangka Pangeran Pamanah Sari menikah juga dengan Nyimas Subang Larang, pada hari itu pesta besar dilaksanakan, namun hanya dipenuhi oleh para santri Syekh Quro saja dari pertama sampai akhir ( yakni tanpa memberitahukan ayahandanya dan  rakyat pajajaran ).
 
Pangeran Pamanah Sari Menjadi Penguasa di Cirebon dan Bergelar Prabu Siliwangi
Kemudian Pangeran Pamanah Sari Menikah dengan Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Raja Sindang kasih ( Majalengka ) yakni putri Ki Gedeng Sindangkasih
Pangeran Pamanah Sari dengan Nyimas  Ambet Kasih sudah resmi menjadi suami istri. Pangeran Pamanah Sari berkumpul dengan istri-istrinya menjadi hidup bersama-sama. Tidak lama kemudian Ki Gedeng Sindangkasih menyerahkan sebagian tanah Cirebon karena yang sebagian lagi kepunyaan Ki Gendeng Tapa Raja singapura, lantas Pangeran Pamanah Sari menerima pemberian mertuanya itu, tidak lama kemudian Ki Gendeng Tapa sudah tua dan berusia lanjut akhirnya yang sebagiannya lagi di berikan juga kepada Pangeran Pamanah Sari, jadi tanah Cirebon di pegang oleh Pangeran Pamanah Sari semuanya, tidak lama kemudian para sesepuh berkumpul dengan Pangeran Pamanah Sari, Ki Gedeng Tapa, Ki Gedeng Sindangkasih, Ki Dampu Awang dan Ki Susuk tunggal, beserta istri-istrinya Pangeran Pamanah Sari yakni ada 4 : Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih, Nyimas Subang Larang, Nyimas  Aciputih Putri dan Nyimas Ratna Mayang Sunda/ Nyimas Kentring Manik
Istri yang pertama Nyimas Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, istri yang kedua yaitu Nyimas Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa yang ketiga yaitu Nyimas  Ambet Kasih putri kandung Ki Gedeng Sindangkasih yang ke empat yaitu Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik putri Ki Susuk Tunggal. Semuanya pada kumpul sebab Pangeran Pamanah Sari sakti mandra guna dan pintar, terkenal dimana-mana yang menguasai kerajaan Pajajaran, Pangeran Pamanah Sari oleh sesepuh di beri julukan SANG PRABU SILIWANGI yang artinya raja kerajaan Pajajaran yang harum dimana-mana terkenal dimana-mana, Pangeran Pamanah Rasa atau Pangeran Pamanah Sari menjadi terkenal dengan gelar Sang Prabu Siliwangi.
Prabu Siliwangi hidup jaya sampai dengan beliau mempunyai putra dari istri yang pertama
Yakni dari Nyimas  Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang  berputra :
1.      Mundingsari Ageung  / Raden Arya Seta
2.      Munding Kelemu Wilamantri / Mantri Kasurudan Tapa / Mantri Kasurutapa
3.      Munding Dalem
4.      Dalem Manggu Larang
5.      Balik Layaran alias Sunan Kebo Warna
Dan dari istri yang kedua,
Yakni dari Nyimas Subang Larang mempunyai 2 orang putra dan 1 orang putri :
1. Pangeran Cakrabuana / Walangsungsang ( H. Abdullah Iman bergelar  Sunan Caruban),
2. Syarifah Muda`im  Nyimas Lara Santang dan
3. Raja Sangara / prabu kiansantang ( H.Mansur bergelar Sunan Rohmat Suci Godog garut ). Ketiga-tiganya masuk Islam.seperti kata pepatah orang sunda “uyahmah tara tees ka luhur “ artinya Sifat orang tua turun ke anak, mana mungkin ayahnya hindu anaknya Islam, karena keumuman orang sunda menganut Islam tabi`i yakni islam turunan , karena ayahnya Islam maka anaknya juga Islam.
Dan dari istri yang ketiga,
Yakni dari Nyimas  Ambet Kasih mempunyai 2 putra yakni :
1.      Prabu Liman Sanjaya, dan
2.      Raden Sake alias Prabu Wastu Dewata/ prabu basudewa
Dan dari istri yang keempat,
Yakni dari Nyimas Ratna Mayang Sunda / Nyimas Kentring Manik berputra :
1.      Prabu  Surawisesa / Raden Jaka mangundra Prabu Guru Gantangan / Munding Laya Dikusuma/ Jaka Puspa /
2.      Raden  Gantangan Wangi Mangkurat Mangkunagara
3.      Raden Gantang Nagara
4.      Raden Gantang Pakuan / Raden Ne-Eukeun
5.      Raden Meumeut raden Ameut / Raden Ceumeut
 
Prabu Siliwangi Menghilangkan
Kerajaan Pajajaran Pindah ke Alam Jin ( Alam Ghaib )
 
Prabu Siliwangi dari keempat istrinya beliau mempunyai keturunan sampai beliau lupa terlalu lama tinggal di Cirebon. Tidak lama kemudian datanglah perajurit Pajajaran yang di utus oleh panglimanya untuk menjemput Prabu Siliwangi kembali pulang ke kerajaan, karena Kerajaan Pajajaran membutuhkan seorang Raja.
Prabu Siliwangi bingung karena sudah berbeda agama. Prabu Siliwangi sudah muslim sedangkan di kerjaan Pajajaran masih beragama Hindu. Akhirnya prabu Siliwangi Mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah itu.
Sebelum Pergi Prabu Siliwangi berpesan kepada seluruh istrinya agar tanah Cirebon dan ajarannya harus turun-temurun sampai pada anak cucu mereka. Lalu Prabu Siliwangi berangkat kembali ke karajaan Pajajaran bersama para prajurit dan ditemani oleh macan putih dari bangsa jin yang telah diangkat menjadi panglima oleh Prabu Siliwangi.
Waktu Yang dibutuhkan untuk kembali ke kerajaaan pajajaran sekitar 3 hari, tetapi karena Prabu Siliwangi telah mempunyai Ilmu Saefi Angin maka tak disangka-sangka mereka bisa sampai tujuan hanya dalam waktu setengah hari.
Seluruh rakyat Kerajaan dan segenap keluarga Menyambut kedatangan Prabu Siliwangi,mereka menyembah Prabu sepanjang jalan menuju Kerajaan, lalu Prabu di sambut dengan suka cita oleh kakeknya Panglima Eyang Jaya Karsa, Prabu Siliwangi masuk ke dalam kerajaan tak ada yang berubah satu pun di kerajaan masih seperti waktu di tinggalkan dulu.
Beberapa hari terakhir Prabu Siliwangi memikirkan bagaimana Fitnah dari rakyat-rakyatnya apabila mereka tahu bahwa dirinya Sudah di Islamkan oleh Syekh Quro. Sebenarnya Beliau Telah memikirkan hal ini semenjak berada di tanah Cirebon bagaimana caranya supaya menghilangkan Fitnah atau perkataan-perkataan dari rakyatnya yang tidak tahu tentang agama, tidak lama kemudian Prabu Siliwangi mendatangi Macan Putih panglimanya Supaya Membantu Negara Pajajaran Di Pindahkan Ke alam Jin ( alam Ghaib ). Prabu Siliwangi Menunggu datangnya Bulan Purnama untuk menjalankan Rencananya itu Ketika Pintu GHAIB terbuka, kebetulan datangnnya Bulan purnama hanya 2 Hari lagi, sambil menunggu Prabu Siliwangi bersama macan putih malam-malam pergi ke batas Kerajaan Pajajaran untuk menanam pohon jeruk, dari batas kerajaan supaya ketika Menghilang tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak ada bukti apapun.
Akhirnya Malam kedua di bulan Purnama waktu yang telah ditentukan oleh Prabu Siliwangi Datang Juga, Beliau Bersama Macan Putih menyireup agar semua rakyatnya tidak ada yang mengetahui satu juga pindahnya karajaan Pajajaran dari alam dzohir ke alam ghaib. Prabu Siliwangi langsung memindahkan kerajaan tersebut dengan orang-orangnya, memakai ilmu dengan dibantu oleh Macan Putih menghilang. Nah semua negara kerajaan Pajajaran pindah dari alam dzohir ke alam ghaib.

Selasa, 05 Februari 2013

10 KALIMAT DAHSYAT

Berdasarkan rujukan manuscript aslinya yang tidak ditambahkan/dikurang oleh siapapunnya yaitu Sirrul Jallil dari syaikh abul hasan asy-syadzili….inilah petikan do’a dan hadist rosulullah SAW dalam kitab tersebut….”dan telah diriwayatkan oleh Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengucapkan sepuluh kalimat setelah shalat dipagi hari, niscaya ia mendapati Allah dalam setiap kalimat itu yang akan mencukupi dan memberikan ganjaran padanya, 5 untuk dunia, 5 untuk akhirat:

HASBIYALLAHU LIDIINIY
HASBIYALLAHU LIMAA AHAMMANIY
HASBIYALLAHU LIMAN BAGHAA ALAYYA
HASBIYALLAHU LIMAN HASADANIY
HASBIYALLAHU LIMAN KAADANIY BISUU-IN
HASBIYALLAHU ‘INDAL MAWT
HASBIYALLAHU ‘INDAL MAS-ALATI FIL QABR
HASBIYALLAHU ‘INDAL MIIZAAN
HASBIYALLAHU ‘INDASH-SHIRAATH
HASBIYALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWA ‘ALAYHI TAWAKKALTU WA ILAYHI UNIIB


Bila ada tambahan kalimat itu entah dari siapa, tapi semua ini berdasarkan rujukan yang jelas dan termaktub dalam hadist serta manuskript kuno dari  seorang syaikh….makasihh@@@


Sumber : http://wongalus.wordpress.com/